Senin, 17 Maret 2014

Sidi Syekh Muhammad Al Gholla ra


Sidi Syekh Muhammad al-Ghali  ra was one of the elite companions of Shaykh Ahmad Tijani and a descendent of the Prophet Muhammad through Sayyidina Hassan. According to Shaykh Ahmad Sukayrij, Sidi al-Ghali was one of ten companions of Shaykh Tijani whom Allah blessed with the grand illumination (fath al-akbar) at the hand of the Prophet Muhammad. Shaykh Tijani was very fond of Sidi al-Ghali, and it was him whom he called to pronounce the famous words, “These two feet of mine are on the shoulders of every saint of Allah.” Shaykh Tijani also let it be known that it would necessary for Muhammad al-Ghali to perform the funeral prayer over him when he passed. At the time of Shaykh Tijani’s passing, however, Muhammad al-Ghali was traveling. Upon burial, the children of the Shaykh dug up the body of their father to take it back to Algeria. When the disciples in Fes prevailed upon the noble descendents of the Shaykh to let the blessed body be reburied in the Zawiya in Fes, Muhammad al-Ghali was there to perform the final funerary rites – thus fulfilling the prediction of Shaykh Tijani.
Muhammad al-Ghali was endowed with immense spiritual zeal and concentration. He used to spend hours in his prayers and remembrances; and it is reported he used to glorify Allah twenty-seven times in a single prostration. He once was so deep in concentration during his litany that he failed to notice his own daughter fall off the roof of his house in front of him. Once, one of his disciples happened to visit him after he had just finished his remembrances. The disciple noticed Sidi al-Ghali’s body was strangely hot, as if he was in the midst of a steam bath. When he touched his hand, the disciple felt his hand burned as if he were touching hot coals. Shaykh Sukayrij explained, “Such a phenomenon is not uncommon among the people of Truth, considering what they are authorized to recite. Some may burn their tongue uttering the Magnificent Name.”
Among his visionary encounters was a meeting with the Prophet Muhammad, who told him, “You are the son of the beloved one of Allah, and you taken the spiritual path of the beloved one of Allah.” He also met Shaykh Ahmad Tijani after his passing and asked him, “O Sidi! You went away and left us alone!” The Shaykh replied, “I am not distant from you and I did not leave you; I have only moved from an earthly dwelling place to an abode of light.”
After his training with Shaykh Tijani, Sidi al-Ghali went to the Hijaz to propagate the Tariqa. There he met al-Hajj Umar al-Futi, trained him and granted him license to spread the Tariqa Tijaniyya in West Africa. Al-Hajj Umar’s Kitab al-Rimah describes Muhammad al-Ghali as being in frequent visionary contact with the Prophet and Shaykh Ahmad Tijani and traveling often between Mecca and Medina.
Sidi al-Ghali died in 1244 (1829) in Mecca, and was buried in the same graveyard as Sayyida Khadija, the wife of the Prophet Muhammad.
Sources: Ahmad Sukayrij, Kashf al-Hijab; Umar al-Futi, Kitab al-Rimah.
Sidi Syekh Muhammad al - Ghali adalah salah satu sahabat elit Syaikh Ahmad Tijani dan keturunan Nabi Muhammad melalui Sayyidina Hassan . Menurut Syaikh Ahmad Sukayrij , Sidi al - Ghali adalah salah satu dari sepuluh sahabat Syaikh Tijani yang Allah diberkati dengan grand iluminasi ( fath al - akbar ) di tangan Nabi Muhammad . Syaikh Tijani sangat menyukai Sidi al- Ghali , dan itu dia yang ia dipanggil untuk mengucapkan kata-kata terkenal , " Kedua kaki saya berada di pundak setiap orang kudus Allah . " Syaikh Tijani juga membiarkan orang tahu bahwa itu akan diperlukan untuk Muhammad al- Ghali untuk melakukan doa pemakaman di atasnya ketika ia melewati . Pada saat meninggalnya Syaikh Tijani , bagaimanapun , Muhammad al- Ghali bepergian . Setelah pemakaman , anak-anak dari Syekh menggali tubuh ayah mereka untuk membawanya kembali ke Aljazair . Ketika murid-murid di Fes menang atas keturunan mulia dari Syekh untuk membiarkan tubuh diberkati akan dimakamkan kembali di Zawiya di Fes , Muhammad al- Ghali berada di sana untuk melakukan ritual penguburan akhir - sehingga memenuhi prediksi Syaikh Tijani .Muhammad al - Ghali yang diberkahi dengan semangat spiritual yang besar dan konsentrasi . Ia digunakan untuk menghabiskan berjam-jam dalam doa dan kenangan itu , dan dilaporkan ia digunakan untuk memuliakan Allah dua puluh tujuh kali dalam sujud tunggal . Dia pernah begitu tenggelam dalam konsentrasi selama litani bahwa ia gagal untuk melihat putrinya sendiri jatuh dari atap rumahnya di depannya . Sekali , seorang murid-Nya terjadi untuk mengunjunginya setelah ia baru saja selesai kenangan nya . Murid itu melihat tubuh Sidi al- Ghali yang anehnya panas , seolah-olah ia berada di tengah-tengah mandi uap . Ketika ia menyentuh tangannya , murid merasa tangannya terbakar seolah-olah dia menyentuh bara panas . Syaikh Sukayrij menjelaskan , " Fenomena seperti ini tidak jarang di antara orang-orang dari Kebenaran , mengingat apa yang mereka berwenang untuk membaca . Beberapa mungkin membakar lidah mereka mengucapkan Nama Magnificent . "Di antara pertemuan visioner adalah pertemuan dengan Nabi Muhammad , yang mengatakan kepadanya , " Anda adalah putra tercinta satu Allah , dan Anda mengambil jalan spiritual yang tercinta satu dari Allah . " Dia juga bertemu Syaikh Ahmad Tijani setelah ia lewat dan bertanya kepadanya , " O Sidi ! Anda pergi dan meninggalkan kami sendirian " Syaikh menjawab , " Saya tidak jauh dari Anda dan aku tidak meninggalkan Anda ; ! . Saya hanya pindah dari tempat tinggal duniawi untuk tempat tinggal cahaya "Setelah pelatihan dengan Syaikh Tijani , Sidi al - Ghali pergi ke Hijaz untuk menyebarkan tarekat . Di sana ia bertemu dengan al- Hajj Umar al - Futi , melatihnya dan diberikan kepadanya izin untuk menyebarkan tarekat Tijaniyyah di Afrika Barat . Al -Hajj Umar Kitab al - Rimah menggambarkan Muhammad al - Ghali sebagai sering kontak visioner dengan Nabi dan Syaikh Ahmad Tijani dan perjalanan sering antara Mekkah dan Madinah .Sidi al - Ghali meninggal pada 1244 (1829) di Mekkah , dan dimakamkan di pemakaman yang sama seperti Sayyida Khadijah , istri Nabi Muhammad .
Sumber : Ahmad Sukayrij , Kashf al - Hijab , Umar al - Futi , Kitab al - Rimah

Kamis, 13 Maret 2014

Saiduna wa Syaikhuna Ustman Dhomiri Rodliyallohu 'anhu


                                                  Foto Syekh Usman Ketika masih Muda 

Sayyidi Syeikh Ustman Dhomiri lahir di Hadramaut Yaman selatan, orangtua beliau (Bapak), Sayyidi Syeikh Utsman Dhomiri benama Syeikh Yahya yang berasal dari Hadramaut Yaman Selatan, menikahi putri dalem kasultanan Yogyakarta, sehingga gelar tertanam didepan nama beliau dan anak,cucu beliau, dalam mengembangkan Thoriqohnya Sayyidi Syeikh Utsman sangat unik bukan dengan mendirikan pesantren, melainkan dengan cara mengajar kesenian beladiri dengan disisipkan ajaran-ajaran tasawwuf dan ajaran thoriqohnya.

Sebelum memegang Thoriqoh Tijaniyah beliau Sayyidi Syeikh Utsman Dhomiri sudah memegang kurang - lebih 41 Thoriqoh yang hampir kesemuanya beliau adalah Mursid Thoriqoh tersebut. Pertemuan dengan Sayyidi Syeikh Ali At'thoyib lah yang menghantarkan beliau memegang thoriqoh Tijaniyah.
Bukan hal perkara mudah untuk membawa Sayyidi Syeikh Utsman Dhomiri kedalam Thoiqoh At'Tijaniyah disamping ilmu agama yang cukup mempuni baik Quran, Hadist, Kitab, beliau adalah tokoh yang khasirmatik, disegani oleh kawan maupun lawan.

Datang seorang murid beliau, sehabis melaksanakan haji di tanah suci Mekkah, yang sebelumnya murid beliau itu bertemu dengan seseorang di tanah suci Mekkah, menanyakan asal dan gurunya adalah siapa ?.. dan dijawablah oleh murid beliau bahwa guru saya adalah Sayyidi Syeikh Utsman Dhomiri, maka orang tersebut memberikan salam kepada sang murid Sayyidi Syeikh dengan cara menjabat tangan sang murid beliau dengan maksud untuk mencium harumnya tangan orang tersebut. sesampai ditanah air hal tersebut disampaikan oleh gurunya yaitu Sayyidi Syeikh Utsman Dhimiri, terkejutlah Sayyidi syeikh bahwa harum tangan si murid yang dijabat oleh seseorang ditanah suci Mekkah tidak hilang bahkan lebih semerbak harumnya meliputi seluru ruangan, dan Sayyidi Syeikh mengenali harum tersebut tak lain adalah harumnya Rasulullah.
Maka beliau Sayyidi Syeikh Utsman Dhomiri segera mencari Sayyidi Syeikh Ali At'thoyib untuk meminta talqin Thoriqoh At'tijaniyah, lebih terkejut lagi beliau atas pernyataan Sayyidi Syeikh Ali At'thoyib bahwa beliau belum cukup pantas untuk mentalqin thoriqoh kepada Sayyidi Syeikh Ustman Dhomiri.



                                       Kemursyidan Syekh Usman Dhomiri dalam Thoriqot Tijani

Dalam kesempatan Syeikh Utsman Dhomiri pergi ketanah suci Mekkah, sewaktu beliau Syeikh Utsman Dhomiri berziarah ke makam Rasulullah, dan bertemulah beliau Syeikh Utsman Dhomiri dengan Rasulullah menanyakan hal ikhwal tentang perjumpaan dengan sang murud ditanah air, maka memintalah Syeikh Utsman Dhomiri ditalqin wirid thoriqoh AT'Tijaniyah namun permintaan Syeikh Utsman ditolak dengan berkata " Bukan saya yang akan mentalqin mu ya Utsman Dhomiri melainkan wasilah mu orang yang ada dibelakang mu' selagi menoleh kebelakang ternyata orang tersebut adalah Sayyidi Syeikh Ali At'toyib.
dimintalah Sayyidi Syeikh Ali At'thoyib untuk memberikan aurod thoriqoh Attijaniyah kepada Sayyidi Syeikh Utsman Dhomiri di saksikan Rasulullah, didepan makam Rasulullah. maka mulai saat itu hingga tulisan ini dibuat Sayyidi Syeikh Utsman Dhomiri menjadi pengamal aurod At'tijaniyah, meyebarkan thoriqoh At'tijaniyah dan meninggalkan aurod thoriqoh - thoriqoh yang lainnya secara total, dikarenakan aturan wajib sebagai pemegang aurod Attijaniyah tidak boleh menduakan wirid-wirid wajibnya. Pesan Sayyidi Syeikh Utsman Dhomiri kepada murid-muridnya adalah menjaga / meramaikan Zawiyah di cimahi Bandung, tetap selalu Istiqomah menjaga mengamalkan wirid thoriqoh Tijani, waro, tawadhu, dan saling asah-asih-asuh sesama ashab (panggilan sesama pemegang thoriqoh Tijani yang bersanad kecimahi).

Silsilah Robithoh Sidi Syekh Usman Dhomiri ra :

Saidi Syekh Al Hajj Ustman Dhomiri dari Saidi Syekh Ali Ath Thoyyib Al Hasani dari Saidi Syekh Muhammad Al Hasyimi (Syekh Alfa Hasyim) dari Saidi Syekh Sa'id dari Saidi Syekh Umar bin Sa'id Al Futi (Muallaf Kitab Ar Rimah) dari Saidi Syekh Muhammad Al Ghola dari Saidi Syekh Ahmad At Tijani Al Quthbul Al Maktum dari Saiduna Muhammadur Rosululloh saw., 




Susunan silsilah masyayikh/khalifah (para syaikh) yang kami pegang dari Sidi Syekh Muhammad Syuaib ra hingga ke Sidi Syekh Usman Dhomiri Cimahi dan itu selalu dibaca bila memulai wirid tertentu, yaitu :

1. Syaikh Ahmad At-Tijani
2. Syaikh Muhammad Al-Ghola
3. Syaikh Muhammad Al-Fahasyim
4. Syaikh Ali Thoyyib
5. Syaikh Usman Dhomiri
6. Syaikh Muhammad Sudjatma Ismail
7. Syaikh Muhammad Syuaib

Pengganti dari Syaikh Ahmad Tijani disebut sebagai Khalifah, yaitu penerus perjuangan Syaikh Ahmad Tijani. Para khalifah tersebut dibantu oleh banyak muqaddam yang tersebar di beberapa tempat (daerah). Beberapa murid yang dikenal kedudukannya sebagai muqaddam di antaranya : KH. Badruzzaman ( wilayah Garut & sekitarnya dan KH. Abbas (wilayah Cirebon & sekitarnya), juga para muqaddam di wilayah lain seperti Sukabumi, Banten, dll. Untuk mengajarkan ilmu kepada orang lain para muqaddam harus seizin khalifah, pun untuk setiap ilmu dari tarekat Tijani untuk setiap orang harus seizin khalifah. Bila khalifah meninggal dunia maka para muqaddam harus bermakmum/berkhidmat kepada khalifah baru yang ditunjuk secara spiritual oleh khalifah sebelumnya. Hal ini wajib dilakukan untuk menunjukkan adab dan ketaatan seorang murid kepada khalifah. Mungkin anda mengetahui bahwa tarekat Tijani sangat menjunjung tinggi adab kepada khalifah Rasulullah/guru, dalam hal ini khalifah dalam tarekat Tijani. Sampai-sampai seorang Tijaniyah dilarang keras berziarah kepada wali-wali selain wali-wali Tijaniyah.
Dari keenam khalifah di atas, 3 orang terakhir adalah berasal dari Indonesia, yaitu Syaikh Usman Dhomiri Al-Attas (keturunan Arab), Syaikh Sudjatma dan Syaikh Muhammad Syuaib. Syaikh Usman bertemu dan diangkat sebagai murid Syaikh Ali Thoyyib di Mekkah ketika beliau sedang menimba ilmu di sana. Selepas belajar di Madinah, Syaikh Usman pulang ke Cimahi untuk menyebarkan tarekat. Beberapa waktu kemudian Syaikh Ali Thoyyib datang ke Indonesia dan melimpahkan pundak kekhalifahan Tijaniyah kepada murid pilihan, yaitu Syaikh Usman. Begitu pula seterusnya ketika sudah jatuh waktunya, Syaikh Usman memberikan tugas kekhalifahan kepada murid terpilih, yaitu Syaikh Sudjatma (Bogor). Dan dari Syaikh Sudjatma diteruskan kepada murid pilihan, yaitu Syaikh Muhammad Syuaib sampai sekarang. Jadi penunjukan syaikh-syaikh dalam tarekat Tijaniyah khususnya, tidaklah berdasarkan keturunan, tetapi penunjukan langsung oleh Rasulullah SAW secara KASYAF disaksikan oleh masyayikh sebelumnya.

Amalan dasar seorang pengikut tarekat Tijani adalah wirid Ladzimah, yang lazim dibaca bada sholat Subuh dan bada sholat Ashar. Di atas itu adalah wirid wadzifah wa hailalah, yang dibaca setiap hari Jumat. Yang paling tinggi adalah Al-Jauharotul Kamal (Mutiara Kesempurnaan). Untuk sampai kepada Al-Jauharotul Kamal harus melewati beberapa tingkatan, di antaranya beberapa puasa. Di dalam ajaran Tijaniyah puasa dimulai dari yang 3 hari, 10hari, 45 hari hingga puasa 100 hari, dan yang terakhir puasa 3 tahun. Jadi tidak seperti makan cabe langsung terasa pedasnya. Ada juga wirid-wirid tertentu untuk tujuan tertentu, seperti hizb Al-Bahr (untuk keduniawian/rezeki), wirid untuk bertemu Rasulullah saw, wirid untuk ketabiban, wirid untuk perang, dan lain-lain yang semuanya itu harus melewati beberapa tingkatan.

Bila seorang murid hingga meninggal dunia hanya mempunyai wirid dasar yaitu Ladzimah, itu pun sudah mencukupi, karena Rasululllah saw. pernah bersabda bahwa bila seorang murid melazimkan wirid hingga meninggal dunia maka dia, istri-istri dan anak-anaknya, berikut kedua orang tuanya akan dimasukkan surga tanpa hisab; tidak akan mengalami pertanyaan di kubur, tidak akan mengalami huru-hara di padang mahsyar dan melewati shirat secepat kilat. Dan tidak akan meninggal seorang murid kecuali dalam kedudukannya sebagai seorang wali. Oleh karena itu pula seorang murid Tijani dilarang keras berziarah kepada wali-wali yang lain.

Segudang ilmu terdapat di dalam tarekat Tijani, baik ilmu keakhiratan, ilmu dunia (rezeki, kewibawaan, dll), ilmu tentang perang , pengobatan dll. Ilmu-ilmu tentang keduniawian dihimpun dalam 40 kitab, yang setiap kitabnya memuat/mengajarkan 50 ilmu. Jadi ilmu-ilmu keduniawian ada sekitar 2000 ilmu. Seluruh kitab-kitab Tijaniyah yang diwariskan oleh Asy-Syaikh Al-Mukarrom Ahmad At-Tijani terdapat di majelis Bogor, dalam genggaman khalifah yang sekarang Asy-Syaikh Hadji Muhammad Syuaib. Bila saudara hendak mengetahui seluruh kitab-kitab ukhrowi & dunya Tijaniyah, silakan datang ke majelis Bogor. DAN, bila saudara hendak mencari seorang Syaikh Tijani yang menggenggam seluruh ilmu hikmah, silakan datang ke majelis Bogor dan belajarlah tarekat secara BENAR dan ADAB

Daftar Pustaka :
(Sumber Duriah Sayyidi Syeikh Utsman Dhomiri., attijaniyah bekasi@wordfress.com)
(sumber HARUN PRIBADI tijani121@gmail.com )


Senin, 10 Maret 2014

Penghulu Budi Ali Hidayat, S.HI., MA

Biografi Mualim 
Penghulu Budi Ali Hidayat, S.HI., MA
(Penghulu Muda/Muqoddam Thoriqot Tijani Cimahi)

Penghulu Muda/Muqoddam Thoriqot At Tijani Al Usmaniyah Al Isma'iliyah Asy Syuaibiyah :

Budi Ali Hidayat dari Saidi Syekh Al Hajj Muhammad Syuaib dari Saidi Syekh Al Hajj Muhammad Sujatma Al Ismail dari Saidi Syekh Al Hajj Ustman Dhomiri dari Saidi Syekh Ali Ath Thoyyib Al Hasani dari Saidi Syekh Muhammad Al Hasyimi (Syekh Alfa Hasyim) dari Saidi Syekh Sa'id dari Saidi Syekh Umar bin Sa'id Al Futi (Muallaf Kitab Ar Rimah) dari Saidi Syekh Muhammad Al Ghola dari Saidi Syekh Ahmad At Tijani Al Quthbul Al Maktum dari Saiduna Muhammadur Rosululloh saw.,  

ini putra dari seorang Pensiunan Penghulu dan Tokoh Ulama Mathla’ul Anwar (Ahli Falak) di Kota Cimahi . Silsilah beliau didapat dari tulisan yang turun temurun dari kakek/nenek dan cerita bapak beliau., di dalam kertas yang sudah lama menjelaskan tentang silsilah Arab, Pajajaran, Mama Sukapura,  (Wallohu Alam ).

Silsilah dari Pihak Bapak : Penghulu H. Muh. Endang Djadjuli. bin Penghulu H.R. Ma'mun Qoyyidi s.d  Mama Sukapura., Silsilah dari Ibu :  Hj. Siti E. Badriyah binti KH. R. Edi Junaedi (Mama Bunder Cililin) s.d Sunan Gunung Djati., Silsilah dari Nenek : Hj. Siti Ruhamah binti R.H. Abdul Muhyi Fatmadinata (Abah Bodas Cililin)  s.d  Syekh Mansyur Banten

Dilahirkan  di Bandung, 10 Desember 1976.  Pendidikan Formal yang ditempuh ; TK. Karya Pembangunan (Th. 1982)., SD Karsawinaya (Th. 1988) di Cimahi, Mts Ponpest. Baitul Arqom (Th. 1991), MA Ponpest. Baitul Arqom (Th. 1994) . Meraih gelar Sarjana Hukum Islam (S.HI) dari Fakultas Syari’ah Ahwal Ash Shakhshiyah IAIN ”SGD” Bandung (Th. 2002).  

Menikah dengan Siti Sopiah Makkih Putri dari KH Asep Bahrudin Makkih (Alm) Pest. Jati Cihanjuang., cucu dari seorang Ulama di Jawa Barat, Mama Sindang Sari Pest. Sindang Sari Cigondewah (Ahli Ilmu mantik). Dikaruniai tiga putri ;

1.  N. Albi Awwaliyah Ridlolloh.,
2.  Ratu Asyuriyah Khowas.,
3.  Ufik Dzauqi Zakiyyah. 

Pendidikan Pesantren yang pernah ditempuh ;  Pesantren Baitul Arqom (Th. 1988 s.d 1994), Pesantren Al Hikmah Benda Jawa Tengah (Th. 1994 s.d 1995), Pesantren Cikalama Cicalengka (Th. 1995 s.d 1996), Pesantren Buni Sari (Th. 1997),  Pesantren Darut Tawwabin Pamuragan Cirebon (Th. 1997 s.d 1998). Pesantren Nurul Hikmah saguling  (Th. 1998).

Pekerjaan : Guru TP. Al Qur’an Al Arafah Tahun 1995 s.d sekarang., Penghulu Muda di Lingkungan Kemenag Kota Cimahi  s.d sekarang., Dosen Ilmu Falak dan Fiqih Ushul Fiqih di Perguruan Tinggi Islam Swasta di Cimahi, Tim Falakiyah BHRD Kota Cimahi s.d sekarang., Sekr. Fatwa MUI Kota Cimahi s.d sekarang.


Buku-buku yang pernah ditulis ;
  1. Buku SD PAI kelas 1 dan 4, Budi Ali Hidayat, S.HI.   Penerbit Titian Ilmu. Bandung,
  2. Sejarah Kebudayaan Islam untuk MA Kelas III.,  Penerbit Titian Ilmu Bandung,
  3. PAI untuk SMK Tingkat I Penerbit Angkasa Bandung.  
  4. Memahami Dasar-dasar Ilmu Faraidl dalam Teori dan Praktik, CV Angkasa Bandung
  5. Fiqih Lingkungan, MUI Kota Cimahi tahun 2011 Penerbit Pemkot Cimahi/MUI Cimahi
  6. Ilmu Asrar Hisab (edisi Sunda)  Al Arafah Tahun 2000
  7. Terjemahan Faidur Rabbani, Wasiat dan Nasihat Saidul Wujud Rasulullah saw., & Saidul Auliya Syekh Ahmad At Tijani ra. Al Arafah Tahun 2000
  8. Pelajaran Dasar Ilmu Falak Edisi 1. ( AlManak Syamsiyah/Qomariyah, Khusuf/Kusuf dan Rukyatul Hilal).
  9. Pelajaran Dasar Ilmu Falak Edisi 2. (Samtul Qiblat dan Penanggalan Jadwal Waktu Shalat)
  10. Fiqih Kepenghuluan Diktat Tahun 2012 


Barang-barang Peninggalan Rosululloh saw











Koreksi Tentang Sejarah Tijaniyah By. H.Harum


KOREKSI TENTANG SEJARAH TIJANIYAH
Assalaamu’alaikum. Akhirnya ada juga ikhwan “Tijaniyah” yang menyempatkan diri untuk berbagi pengetahuan tentang tarekat (bukan ilmu tarekat) yang kita amalkan di beberapa bloq. Walaupun hanya tulisan2 yang berkenaan dengan sejarah perkembangan Tijaniyah, itu sudah menunjukkan bahwa kita bangga dengan jalan/tarekat yang kita lakoni.
Tetapi sayang, tidak semua isi tentang sejarah perkembangan Tijaniyah yang dimuat benar. Ada sesuatu yang sengaja disembunyikan; ada sesuatu yang kita tidak mau mengakuinya secara jujur.
Ada yang salah kaprah di sini dan dengan mudahnya menyamakan Thoriqoh seperti layaknya organisasi keagamaan (seperti NU, Muhammadiyah, Al-Irsyad, dll).
Sebenarnya ada 2 (dua) hal yang ingin kami koreksi dan menyampaikannya kepada khalayak Tijaniyah, yaitu sejarah perkembangan dan tatacara/Adab tholaab ilmu. Namun untuk ulasan saat ini, saya hanya ingin menyampaikan tentang sejarah perkembangan Tijaniyah di Indonesia.
Memang benar Syaikh Ahmad Tijani memberi ijazah kepada banyak murid. Dan dari banyak murid itu beliau angkat beberapa Muqaddam. Dan dari beberapa Muqaddam itu beliau angkat beberapa Khalifah (Pemimpin perguruan). Berkembangnya Tijaniyah di Indonesia lebih masyhur dikaitkan dengan perjumpaan antara Syaikh Ali Thoyib (saat itu sudah menjadi khalifah/pemimpin perguruan) dengan Kiai Usman Dhomiri. Singkat cerita, ketika Syaikh Ali Thoyib datang dan bermukim di Indonesia dalam waktu yg cukup lama, beliau memberi ijazah/taqlid/izin kepada beberapa orang menjadi murid beliau. Dari beberapa murid itu, diangkatlah beberapa Muqaddam, di antaranya :
1. Kiai Ahmad Sanusi
2. Kiai Muhammad Sudja’i
3. Kiai Usman Dhomiri (Cimahi, Bandung)
4. Kiai Anas, kiai Abbas, kiai Akhyas
5. Kiai Badruzzaman
6. Kiai Abdul Wahab Sya’roni
Ada satu contoh yang bisa menggambarkan tentang ADAB murid kepada gurunya, yaitu tentang Kiai Anas. Walaupun kiai Anas memperoleh ijazah pertama kali dan murid dari Syaikh AlFahasyim, namun ketika Syaikh AlFahasyim wafat dan digantikan oleh Syaikh Ali Thoyib, maka kiai Anas dengan ikhlas mengakui Syaikh Ali Thoyib sebagai guru (Pemimpin perguruan) beliau dan ber-ijazah untuk kedua kalinya. Kita bisa membayangkan bagaimana besarnya penghormatan Kiai Anas kepada Guru, walaupun sang guru seusia atau bahkan lebih muda usia. Itu adalah contoh ADAB yang mulia kepada Guru/SYAIKH, bagi yang meyakini bahwa tarekat Tijaniyah adalah AGUNG dan TINGGI.
Ketika Syaikh Ali Thoyib akan wafat, maka dari beberapa Muqaddam yang dipilih sebagai SYAIKH (Pemimpin perguruan) penerus adalah Kiai Usman Dhomiri. Maka sejak saat itu kiai Usman Dhomiri bergelar SYAIKH dan seluruh murid dan Muqaddam harus berkhidmat kepada SYAIKH yang baru, yaitu Syaikh Usman Dhomiri. Dengan menerima gelar SYAIKH, maka beliau menerima pula warisan Kitab JAWAHIRUL MA”ANI dan kitab2 yang lain termasuk 40 kitab yang berisi ilmu keduniawian.
Dalam perkembangan selanjutnya, bertambahlah murid beliau dan diangkatlah beberapa Muqaddam baru, di antaranya kiai Sudjatma Ismail (Bogor). Nah, di zaman kepemimpinan perguruan di bawah Syaikh Usman inilah terjadi benturan-benturan emosional yang sulit untuk mengakui Syaikh Usman sebagai Guru perguruan Tijaniyah, terutama dari beberapa Muqaddam yang jauh lebih sepuh usianya.
Dan hal ini akhirnya berlanjut menjadi semacam “Penyelewengan Kesetiaan” hingga kepada Syaikh yang berikut sampai sekarang. Syaikh Usman Dhomiri hanya mengangkat 4 (empat) orang Muqaddam, yaitu :
 1. Mualim KH Sudjatma Ismail
 2. Mualim KH Nu’man Dhomiri (Putra Syaikh Usman)
 3. Mualim KH Hasbulloh
 4. Mualim KH Musa Nasrudin 
Beberapa murid Syaikh Usman yang merupakan tokoh2 penting Indonesia, di antaranya adalah Presiden Soekarno, KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU) dan KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah).
Ada satu kejadian menarik di zaman Syaikh Usman, bahwa putra dari Syaikh Ali Thoyib pernah meminta beberapa Kitab (termasuk Jawahirul Ma’ani) agar diserahkan kepada beliau, tetapi Syaikh Usman menolak dengan keras. Tetapi anehnya putra dari Syaikh Ali Thoyib tersebut bisa mengadakan semacam perguruan Tijaniyah di tempat lain tanpa seizin Pemimpin Perguruan Tijaniyah; sesuatu di luar keladziman tarekat Tijani ( sebagai pengganti istilah ADAB).
Singkat cerita, ketika Syaikh Usman akan wafat, maka dari beberapa Muqaddam beliau yang dipilih sebagai SYAIKH (Pemimpin perguruan) penerus adalah Kiai Sudjatma Ismail. Maka sejak saat itu kiai Sudjatma Ismail bergelar SYAIKH dan seluruh murid dan MUQADDAM wajib berkhidmat kepada SYAIKH (Pemimpin perguruan) yang baru, yaitu Syaikh Sudjatma Ismail. Dengan menerima gelar SYAIKH, maka beliau menerima pula warisan Kitab JAWAHIRUL MA”ANI dan Kitab2 yang lain termasuk 40 kitab yang berisi 2000 ilmu keduniawian. Dalam perkembangan selanjutnya, bertambahlah murid beliau dan beliau mengangkat beberapa Muqaddam, di antaranya kiai Muhammad Syua’ib.
Singkat cerita, ketika Syaikh Sudjatma akan wafat, maka Muqaddam yang beliau pilih sebagai penerus Pemimpin perguruan Tijaniyah adalah kiai Muhammad Syua’ib. Maka sejak saat itu kiai Muhammad Syua’ib bergelar SYAIKH dan seluruh murid dan Muqaddam wajib berkhidmat dan tunduk kepada SYAIKH yang baru. Dengan menerima gelar SYAIKH, maka beliau menerima pula warisan Kitab JAWAHIRUL MA”ANI dan Kitab2 yang lain termasuk 40 kitab yang berisi 2000 ilmu keduniawian.
Syaikh Muhammad Syua’ib diangkat sebagai Syaikh dalam usia yang masih sangat muda, 30-an tahun
Di zaman Syaikh Sudjatma Ismail dan zaman Syaikh sebelumnya, aturan2 di dalam tarekat Tijaniyah sangat keras diberlakukan. Oleh karena itu, sebenarnya secara fakta ada beberapa murid dan Muqaddam yang tidak diakui lagi sebagai murid tarekat Tijani, alias dipecat, dan dicabut seluruh barokah dan manfaat ilmunya. Sebab musababnya berbagai macam; ada yang mencuri kitab, ada yang mengamalkan ilmu tanpa izin SYAIKH, ada yang berbohong, ada yang memfitnah SYAIKH atau mengadakan kegiatan perguruan di luar perguruan pimpinan SYAIKH.
Dan di zaman Syaikh Sudjatma dan zaman syaikh sebelumnya, seseorang belumlah diaku sebagai murid sebelum ijazah puasa 3 hari.
Jadi, kepada murid2 Tijaniyah dan saudara2 yang berminat tholaab ilmu Tijani, datangilah Muqaddam yang ada di kota/daerah anda untuk meminta ijazah tarekat, tetapi carilah Muqaddam yang sanad Ijazahnya tidak meragukan, bersambung secara jelas hingga kepada SYAIKH (Pemimpin Perguruan Tijaniyah) yang hidup, bukan saja sampai kepada sanad Syaikh yang sudah lama wafat. Kalau saudara ragu2, maka sebaiknya datangilah langsung SYAIKH di tempat beliau tinggal, itu lebih utama.
Seluruh SYAIKH tarekat- sanadnya MUTLAQ bersambung hingga kepada Rasulullah SAW. Dalam arti bahwa, semua SYAIKH tarekat adalah keturunan dari Rasulullah SAW, baik dari pihak Sayyidina Hussein r.a ataupun dari Sayyidina Hasan r.a, atau juga dari kedua-dua pihak.
Dalam tarekat Tijaniyah, SYAIKH diangkat secara KASYAF dan mewarisi seluruh ilmu Tijaniyah tanpa mempelajarinya. Yaa, secara logika saja, bila harus dipelajari/tholaab, maka 2000 ilmu itu akan memakan waktu yang sangat lama, bahkan setelah wafatpun belum tentu tamat. Para MUQADDAM dan MURID tidaklah mewarisi ilmu, tetapi THOLAAB ILMU, harus mengamalkan ilmu dengan syarat2 yang sudah ditentukan. Paling2 kita sebagai murid /muqaddam hanya kuat tamat 1-2 kitab (50-100 ilmu) saja sampai tutup usia.
Sebagai penutup ulasan, saya ingin mengingatkan diri kita akan perkataan Rasulullah SAW:
“Carilah ilmu (tholaab ilmu) sampai ke negeri Cina”, kita perumpamakan sebagai “tholaab-lah ilmu Tijani sampai ke negeri seberang”. Tetapi kita patut bersyukur, bahwa ada satu SYAIKH Tijani yang tidak jauh dengan tempat tinggal kita dan tidak perlu biaya yang mahal untuk mendatanginya. Bila saudara2 meyakini bahwa Tijaniyah itu kedudukannya AGUNG dan TINGGI, maka tak ada sesuatupun yang bisa menghalangi saudara2 untuk bertemu dengan SYAIKH yang menggenggam segudang ilmu, tentunya yang dimaksud adalah SYAIKH penerus dari SYAIKH yang sudah wafat. Kecuali, kita mempunyai kemampuan bertemu dengan SYAIKH yang sudah wafat tersebut dalam keadaan KASYAF. Jadi, setelah Syaikh Usman Dhomiri wafat, kepemimpinan perguruan dipegang oleh Syaikh Sudjatma Ismail (yg sebelumnya sebagai Muqaddam dari Syaikh Usman) dan kita wajib berkhidmat kepada SYAIKH yang baru. Dan setelah Syaikh Sudjatma wafat, kepemimpinan perguruan dipegang oleh Syaikh Muhammad Syua’ib sampai sekarang dan kita wajib berkhidmat kepada beliau. Lhaa, kalau nanti Syaikh Muhammad Syua’ib wafat, siapa yang memegang/meneruskan kepemimpinan?? Wallohu a’lam. Yang pasti seseorang dibai’at sebagai SYAIKH karena pilihan dan petunjuk dari Rasulullah SAW. Jadi, kalau kita memiliki ilmu KASYAF, bergurulah langsung kepada GURU BESAR yang sudah wafat: Sayyidi Syaikh Ahmad Tijani. Nggak perlu berguru kepada Syaikh Muhammad Al-Ghola hingga Syaikh Muhammad Syua’ib, apalagi berguru kepada murid2 yang tingkatannya hanyalah sebagai MUQADDAM. Mengapa penghormatan kita kepada MUQADDAM jauh melebihi penghormatan kepada SYAIKH (Pemimpin Perguruan Tijani)?
Bila kita ditakdirkan hidup sampai 500 tahun ke depan, maka kita pun harus tunduk dan berkhidmat kepada SYAIKH yang hidup 500 tahun mendatang.
By. Harun (http://luluvikar.wordpress.com/2004/08/22/tarekat-tijaniyah/

Minggu, 09 Maret 2014

Syekh H.Hasan Musthofa (Penghulu Bandung)




Syekh Haji Hasan Musthofa

Haji Hasan Mustafa (Garut, Jawa Barat, 1268 H/3 Juni 1852 M – Bandung, 1348 H/13 Januari 1930) adalah seorang ulama dan pujangga Islam yang banyak menulis masalah agama dan tasawuf dalam bentuk guritan (pusisi yang berirama dalam bahasa Sunda), pernah menjadi kepala penghulu di Aceh pada zaman Hindia Belanda.
Haji Hasan Mustafa lahir dan hidup dalam lingkungan menak (bangsawan Sunda), tetapi berorientasi pada pesantren. [Ayahnya, Mas Sastramanggala, setelah naik haji disebut Haji Usman, camat perkebunan.] Karena kekerasan hati ayahnya ia tidak dididik melalui bangku sekolah yang akan membukakan dunia menak bagi masa depannya, melainkan dimasukkan ke pesantren. Pertama-tama ia belajar mengaji dari orang tuanya, kemudian belajar qiraah (membaca al-Qur’an dengan baik) dari Kiai Hasan Basri, seorang ulama dari Kiarakoneng, Garut, dan dari seorang qari yang masih berkerabat dengan ibunya.
Ketika berusia 8 tahun, ia dibawa ayahnya menunaikan ibadah haji untuk pertama kali. Di Mekah ia bermukim selama setahun dan belajar bahasa Arab dan membaca al-Qur’an. Sepulangnya dari Mekah di masukkan ke berbagai pesantren di Garut dan Sumedang. Ia belajar dasar-dasar ilmu syaraf dan nahwu (tata bahasa Arab) kepada Rd. H Yahya, seorang pensiunan penghulu di Garut. Kemudian ia pindah ke Abdul Hasan, seorang kiai dari Sawahdadap, Sumedang. Dari Sumedang ia kembali lagi ke Garut untuk belajar kepada Kiai Muhammad Irja, murid Kiai Abdul Kahar, seorang kiai terkenal dari Surabaya dan murid dari Kiai Khalil Madura, pemimpin Pesantren Bangkalan, Madura. Pada tahun 1874, ia berangkat untuk kedua kalinya ke Mekah guna memperdalam ilmu-ilmu keagamaan Islam. Kali ini ia bermukim di Mekah selama 8 tahun. Ketika berada di Mekah ia berkenalan dengan Christiaan Snouck Hurgronje, seorang orientalis Belanda yang sedang meneliti masyarakat Islam di Mekah. Pertemuan itu membuat hubungan keduanya akrab sampai Haji Hasan Mustafa meninggal dunia dan Snouck Hurgronje kembali ke negerinya setelah menunaikan tugas pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia.
Menurut data yang diperoleh dari P.S. van Koningsveld, seorang ahli bahasa Arab dan agama Islam di Belanda, melalui naskah asli Abu Bakar Djajadiningrat, seorang ulama Indonesia, yang dianggap sebagai sumber utama Snouck Hurgronje tentang Mekah, diperoleh informasi bahwa Haji Hasan Mustafa adalah seorang ulama terkemuka dari Jawa yang berada di Mekah menjelang akhir abad ke-19. Ia dianggap setingkat dengan Haji Ahmad Banten, putra Syekh Nawawi al-Jawi (Nawawi al-Bantani). Dalam urutan nama ulama Jawa terkemuka di Mekah saat itu, Haji Hasan Mustafa ditempatkan dalam urutan keenam. Ia mengajar di Masjidil Haram dan mempunyai 30 orang murid. Haji Hasan Mustafa menulis buku dalam bahasa Arab, Fath al-Mu’in (Kunci Penolong), yang diterbitkan di Mesir.
Haji Hasan Mustafa adalah seorang ulama yang menguasai berbagai macam ilmu yang diperoleh dari guru-gurunya di Mekah. Selain kepada Syekh Nawawi al-Bantani, ia juga berguru pada Syekh Mustafa al-Afifi, Syekh Abdullah az-Zawawi, Hasballah, dan Syekh Bakar as-Satha, semuanya adalah orang Arab.
Haji Hasan Mustafa meninggalkan Mekah pada tahun 1882, karena dipanggil oleh RH. Muhammad Musa, penghulu Garut pada masa itu. Ia dipanggil pulang untuk meredakan ketegangan akibat perbedaan paham di antara para ulama di Garut. Berkat usaha Haji Hasan Mustafa dan bantuan RH. Muhammad Musa, perselisihan itu dapat diredakan. Selama 7 tahun ia memberikan pelajaran agama siang dan malam, terutama di Masjid Agung Garut.
Karena pengetahuan agamanya yang luas, Snouck Hurgronje pada tahun 1889 memintanya untuk mendampinginya dalam perjalanan keliling Jawa dan Madura. Ketika itu Snouck Hurgronje adalah penasihat pemerintah Hindia Belanda tentang masalah Bumiputra dan Arab. Ia menjadi pembantu Snouck Hurgronje selama 7 tahun. Atas usul Snouck Hurgronje, pemerintah Belanda mengangkat Haji Hasan Mustafa menjadi kepala penghulu di Aceh pada tanggal 25 Agustus 1893.
Jabatan kepala penghulu di Aceh dipegangnya selama 2 tahun (1893-1895). Kemudian pada tahun 1895 ia kembali ke Bandung dan menjadi penghulu Bandung selama 23 tahun. Akhirnya pada tahun 1918, atas permintaannya sendiri ia memperoleh pensiun.
Haji Hasan Mustafa adalah seorang ulama yang sabar, berpendirian teguh dan berani mengemukakan pendapat serta pendirian. Ia mengembangkan ajaran islam melalui tugas sebagai penghulu dan kegiatannya sebagai pengajaran agama dan tasawuf dalam pertemuan-pertemuan informal. Di antara muridnya terdapat Kiai Kurdi dari Singaparna, Tasikmalaya, yang mempunyai sebuah pesantren.
Ajaran Islam ditulis dan diajarkannya dengan menggunakan lambang-lambang yang terdapat dalam pantun serta wayang tradisional Sunda. Metafora yang dipergunakan sering bersifat khas Sunda. Penyampaian ajaran agama Islam begitu dekat dengan kebudayaan setempat (Sunda). Ia memetik 104 ayat al-Qur’an untuk orang Sunda. Jumlah itu dianggap cukup dan sesuai dengan kemampuan orang Sunda dalam memahami ajaran islam.
Aliran mengenai tasawuf yang dianut dan diajarkan kepada muridnya tidak diketahui dengan pasti. Akan tetapi beberapa orang menyebutkan bahwa ia menganut aliran Syattariah, suatu tarekat yang berasal dari India, didirikan oleh Syekh Abdullah Asy-Syattar, dikembangkan di Indonesia mula-mula oleh Syekh Abdur Rauf Singkel, dan menyebar ke Jawa Barat karena peranan Syekh Haji Abdul Muhyi, salah seorang murid Syekh Abdur Rauf Singkel. Dalam karyanya ia sering menyebut nama al-Ghazali sebagai sufi yang dikaguminya.
Haji Hasan Mustafa menyebarkan ajaran Islam melalui karya-karya seninya yang sangat berlainan dengan karya-karya seni Sunda pada masa itu. Umumnya yang dibahas adalah maslah-masalah ketuhanan (tasawuf). Bentuk formalnya mirip dengan kitab-kitab suluk dalam bahasa Jawa, tetapi isinya lebih dekat dengan tradisi puisi tasawuf. Karya-karya itu merupakan perpaduan atas tanggapan, renungan, dan pendapat Haji Hasan Mustafa terhadap bermacam-macam pengetahuan yang dikuasainya, yakni agama Islam, tasawuf, kebudayaan Sunda, dan peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Hampir semua karyanya ditulis dalam huruf pegon (tulisan menggunakan huruf Arab tetapi kata-kata dalam bahasa Jawa atau Sunda).
[Sekitar tahun 1900 ia menulis lebih dari 10.000 bait dangding yang mutunya dianggap sangat tinggi oleh para pengeritik sastra Sunda. Karya tersebut umumnya membahas masalah suluk, terutama membahas hubungan antara hamba (kaula) dengan Tuhan (Gusti). Metafora yang sering digunakannya untuk menggambarkan hubungan itu ialah seperti rebung dengan bambu, seperti pohon aren dengan caruluk (bahan aren), yang menyebabkan sebagian ulama menuduhnya pengikut mazhab wahdatul-wujud. Terhadap tuduhan itu, ia sempat membuat bantahan Injaz al-Wa'd, fi Ithfa al-Ra'd (membalas kontan sekalian membekap guntur menyambar) dalam bahasa Arab yang salah satu salinan naskahnya masih tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden.]
Karya-karyanya yang pernah dicetak dan dijual kepada umum adalah Bab Adat-Adat Urang Sunda Jeung Priangan Liana ti Éta (1913), esei tentang suku Sunda, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan Belanda (1977); Leutik Jadi Patélaan Adatna Jalma-Jalma di Pasundan (1916); Pakumpulan Atawa Susuratanana Antara Juragan Haji Hasan Mustafa Sareng Kyai Kurdi (1925); Buku Pengapungan (Hadis Mikraj, tahun 1928); dan Syekh Nurjaman (1958).
Di samping itu terdapat pula buku-bukunya yang hanya dicetak dan diedarkan di kalangan terbatas, seperti Buku Pusaka Kanaga Wara, Pamalatén, Wawarisan, dan Kasauran Panungtungan. Semua buku tersebut tidak diketahui tahun terbitnya.
Karya-karyanya yang dipublikasikan dalam bentuk stensilan ialah Petikan Qur’an Katut Abad Padikana (1937) dan Galaran Sasaka di Kaislaman (1937). Masih ada karya lain yang tidak dipublikasikan dan disimpan oleh M. Wangsaatmadja (sekretarisnya, 1923-1930). Pada tahun 1960 naskah tersebut diketik ulang dan diberi judul Aji Wiwitan (17 jilid). [Selain itu, Haji Hasan Mustapa menulis naskah dalam bahasa melayu Kasful Sarair fi Hakikati Aceh wa Fidir (Buku Rahasia Sebetulnya Aceh dan Fidi) yang sampai sekarang naskahnya tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden.]
Pada tahun 1977 haji Hasan Mustafa sebagai sastrawan Sunda memperoleh hadiah seni dari Presiden Republik Indonesia secara anumerta.*** (Sumber: Suplemen Ensiklopedi Islam Jilid 1, Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, cet-9, 2003, hal. 183-184. Tulisan di dalam kurung tegak merupakan catatan tambahan dari Ensiklopedi Sunda.)

sumber :
http://riksakisunda.wordpress.com/

Kamis, 06 Maret 2014

FIQIH "JAM"


FIQIH  "JAM"



Bagi sebagian orang mungkin jam adalah barang biasa yang sudah terbiasa baik di kalangan orang yang luar biasa maupun orang yang biasa-biasa saja. Tapi jam menjadi “luar biasa” penting dalam hal-hal yang di luar ke-biasa-an.
Ungkapan di atas dapat kita rasakan betul ketika kita mulai memasuki bulan suci Ramadhan (Bulan Puasa). Betapa tidak, ketika kita melihat jam dinding kita; sesuai dengan jadwal imsakiyah, ternyata mestinya sudah masuk waktu maghrib. Tapi anehnya, jam tangan kita belum menunjukkan waktu masuk adzan maghrib; lebih aneh lagi jam yang ada di handphone kita waktu magrib sudah berlalu beberapa menit kemudian.
Perbedaan jam ini tentu saja sangat membingungkan. Apalagi jika di sebuah masjid terdapat banyak tertempel jam dinding yang ternyata semuanya berbeda. Sang Muadzin ketika mau menyuarakan suara merdunya harus berpedoman yang mana?
Itulah pertanyaan yang muncul ketika terjadi terjadi perbedaan jam atau waktu –ternyata bukan hanya masalah fiqhiyah saja yang menjadi Ikhtilaf. Masalah jam ‘pun ternyata terdapat ikhtilaf.
Padahal peranan jam sangat signifikan jika dihubungkan dengan ilmu hisab rukyat atau falak. Signifikansi peranan jam antara lain:
  1. Waktu Shalat / Imsakiyah
  2.  Waktu mulai dan berakhirnya gerhana matahari/bulan
  3.  Kalibrasi/Tashih/Terra Ulang Kiblat ketika terjadi Istiwa’ Adhom (Matahari melintasi lintang ka’bah:
  4. Ketika melaksanakan Rukyatul Hilal
Bagaimana cara untuk mengetahui tingkat akurasi jam kita? Bagaimana caranya agar jam kita bisa akurat? Inilah kiat-kiatnya:
GPS
GPS (Global Positioning System). Bila Anda punya alat ini maka dijamin jam anda akurat. Sebab alat ini selain dapat djadikan untuk sistem navigasi, dapat juga dijadikan tempat rujukan jam/waktu yang akurat. Alat ini tersambung secara langsung dengan satelit.
TV
Cocokkan jam Anda dengan televisi. Biasanya Anda bisa melihatnya jamnya ditayang dipojok kanan/kiri/bawah atas.
Radio
Radio. Dengarkan radio RRI ketika mengudara hampir jam 07.00 WIB atau jam 19.00 WIB
Telepon
Telephone atau Handphone. Jika Anda mempunyai jaringan telpon kabel (telpon rumah) cukup tekan angka 103. Dan jika Anda mempunyai handphone dengan simcard Telkomsel (Simpati, As,Hallo) cukup tekan 301. Anda akan dijawab oleh mesin penjawab keadan waktu / jam saaat ini.
GMT
Situs / Website GMT. Bila Anda mempunyai jaringan internet maka browsing (bukalah) website GMT (Greenwich Mean Time). Website ini menayangkan waktu di seluruh belahan dunia secara Real Time. Alamat websitenya: